Senin, 05 Januari 2009

Pengembangan Warnet

Tips Pengembangan Usaha warnet.
Pemikiran Pendanaan Untuk Usaha Warung Internet Onno W. Purbo Tulisan ini merupakan sebagian kecil sari dari buku saya "Teknologi Warung Internet" yang pada saat tulisan ini saya tulis sedang dalam proses untuk di terbitkan oleh penerbit Elexmedia Komputindo. Mudah-mudahan buku tersebut dapat terbit sebelum tahun 2000 mendatang dan dapat dibeli di toko buku Gramedia terdekat dengan para pembaca. Dalam buku teknologi warung internet tersebut dijelaskan dengan lebih detail sisi teknologi yang dapat digunakan untuk membangun sebuah warung Internet dengan basis sistem operasi Windows dan sebuah saluran telepon Dial-Up. Cukup banyak capture screen yang dilampirkan sehingga akan sangat memudahkan bagi para pemula untuk mengikuti teknik-teknik yang di usulkan untuk membangun sebuah warung Internet. Saya amat sangat menyarankan bagi pembaca yang ingin secara serius mengelola warung Internet untuk membaca buku tersebut agar tidak salah dalam mensetup teknologi yang digunakan. Di masa mendatang (mulai tahun 2000) jika dinginkan dapat digunakan teknologi DirecPC atau MediaCast yang menggunakan satelit VSAT yang kemungkinan besar price / performance yang akan diperoleh akan lebih baik dibandingkan teknologi dial-up, akan tetapi teknologi warung Internet yang digunakan tetap tidak berbeda terlalu jauh dengan teknologi yang diterangkan dalam buku teknologi warung Internet tersebut. Pada kesempatan ini akan saya coba ketengahkan sisi pendanaan sebuah warung Internet agar dapat menguntungkan bagi pengelolanya dan tidak terlalu merugikan bagi penggunanya. Mudah-mudahan dengan cara ini kita akan melihat semakin marak-nya usaha / bisnis warung Internet di Indonesia. Secara umum komponen utama yang akan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan sebuah warung Internet, adalah: Adanya pangsa pasar yang cukup besar diwilayah / lokasi warung, biasanya pasar yang besar dari warung Internet adalah lokasi-lokasi turis asing, anak-anak muda / tempat-tempat pendidikan yang mempunyai konsentrasi pengguna yang cukup besar. Kemudian akan disusul oleh perumahan dekat kampus / kost siswa dan dunia usaha kecil / menengah. Investasi komputer yang jeli. Operator yang handal, sebaiknya dipilih dari orang-orang yang memang suka akan komputer. Semua proses pendanaan warung Internet sebetulnya dapat diperhitungkan secara sederhana mengunakan pola rencana bisnis (bisnis plan) yang dapat dibantu perhitungannya menggunakan perangkat lunak Excel. Beberapa komponen mendasar yang harus diperhitungkan adalah: Investasi yang terdiri dari beberapa komponen utama seperti komputer, peralatan LAN, printer, perangkat lunak, meja kursi dan biaya marketing. Biaya operasi bulanan yang meliputi gaji operator, office boy, satpam, akses internet, biaya telepon, listrik air, ATK. Pemasukan yang berupa iuran bulanan bagi akses e-mail dan / atau akses Web. Tinggal kita pandai-pandai menyiasati komponen di atas agar dapat menekan investasi & biaya operasi dan memaksimalkan pemasukan maka kemungkinan balik modal akan menjadi tinggi. Rata-rata jika diusahakan dengan baik dan benar, maka usaha warung Internet akan mengembalikan modalnya sekitar 12-20 bulan. Rule of Tumb kecepatan pengembalian investasi sebetulnya cukup sederhana, yaitu: Semakin banyak pengguna maka semakin cepat balik modal. Semakin banyak komputer yang digunakan maka semakin cepat balik modal jika tingkat pendudukan komputer tersebut tinggi. Akses Internet melalui telepon pada kecepatan 33.6-56Kbps secara bersama akan membatasi jumlah komputer maksimal sekitar 10 buah sekaligus. Komponen utama dalam investasi ada beberapa buah, yaitu komputer, peralatan LAN, printer, perangkat lunak, meja kursi dan biaya marketing. Di antara sekian banyak komponen utama maka komponen investasi yang paling besar adalah komputer. Untuk akses Web dibutuhkan komputer yang cukup cepat kelas Pentium 133. Untuk akses e-mail kita dapat menggunakan komputer dengan kelas yang lebih rendah. Salah satu cara yang paling jitu dalam melakukan investasi komputer adalah membeli pada saat dilakukan pameran komputer atau membeli dalam partai besar di toko komputer yang besar seperti di Glodok atau Mangga Dua kalau dilakukan di Jakarta. Cara lain yang dapat dilakukan adalah mencari komputer-komputer bekas dari Bank-bank yang mungkin sedang mengupgrade sistem komputer-nya atau yang terlanda musibah menjadi bangkrut dan menjual komputer-nya dengan harga murah. Printer barangkali merupakan salah satu investasi yang juga akan menguntungkan terutama jika jasa mencetak surat / halaman Web dilakukan dengan biaya beberapa ratus s/d ribu rupiah per halaman, tergantung jenis printer yang digunakan apakah printer laser atau dot matriks. Agar usaha warung Internet ini menjadi lancar, ada baiknya setiap bulan mengalokasikan sedikit dana untuk marketing misalnya Rp. 100.000 / bulan misalnya untuk mencetak brosur, gambar tempel dll. Secara umum ada dua macam jasa utama yang dapat diberikan oleh sebuah warung Internet, yaitu akses Web dan akses E-mail. Selama ini sebagian besar warung Internet di Indonesia hanya memberikan akses Web saja. Sangat sedikit sekali warung Internet yang memberikan akses e-mail dengan domain sendiri. Kebanyakan klaim akses e-mail diberikan untuk FreeWeb e-mail yang sebetulnya mahal dan tidak menguntungkan untuk usaha Warung Internet. Kita mulai dari pendanaan jasa akses e-mail. Terus terang menurut pengamatan & pengalaman penulis, pendanaan jasa e-mail barangkali merupakan jasa yang paling menguntungkan dari semua jasa-jasa Internet yang ada. Artinya dengan mengambil iuran per bulan yang relatif sedikit dari pengguna, keuntungan finansial yang diperoleh dari jasa ini sangatlah besar. Pengalaman kami di lapangan pada saat mengkaitkan beberapa SMU, SMP ke Internet menunjukan bahwa akses E-mail menggunakan teknik perangkat lunak MDAEMON (http://www.mdaemon.com) hanya membutuhkan waktu 5-10 menit / hari dan sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar SMU / SMP jika tidak mensubscribe ke berbagai mailing list yang macam-macam. Akses Internet 5-10 menit / hari berarti hanya sekitar 5 jam / bulan akses Internet dan akan membutuhkan biaya hanya sekitar Rp. 50-100.000 / bulan biaya telepon & Internet dengan perkiraan biaya per menit akses Internet adalah sekitar Rp. 150 / menit. Tinggal kita tambahkan biaya forwarding e-mail dalam satu domain menggunakan DomainPOP atau ETRN, umumnya biaya yang dibutuhkan untuk ini adalah sekitar Rp. 50.000 / bulan untuk sebuah SMU atau sekitar Rp. 200.000 untuk sebuah warung Internet komersial / perguruan tinggi. Teknik DomainPOP atau ETRN perlu dipelajari secara baik menggunakan software MDAEMON di Windows atau menggunakan procmail di Linux. Dalam buku teknologi warung Internet akan digunakan MDAEMON karena kebetulan saya membatasi untuk sistem operasi Windows saja yang lebih sederhana bagi operator. Dengan perhitungan sederhana sebuah warung Internet yang hanya memberikan jasa e-mail pada penggunanya. Tentunya asumsi ini agak sedikit salah karena tidak mungkin sebuah warung Internet hanya akan memberikan jasa e-mail saja. Sebuah warung dengan lima (5) buah komputer Pentium dan printer yang masih baru dengan dilengkapi furnitur yang baru pula akan membutuhkan investasi sekitar Rp. 13-17 juta. Perkiraan biaya bulanan akan sedikit lebih dari satu (1) juta per bulan dengan komponen utama honor operator Internet yang harus standby selama sekitar 12 jam / hari. Biaya akses Internet untuk jasa e-mail sangat minimal karena hanya beberapa ratus ribu rupiah per bulan. Dengan target pemasukan hanya dari e-mail saja, misalnya setiap pelanggan warung yang menyewa jasa e-mail ini dibebani biaya langganan sebesar Rp. 10.000 per bulan maka jika ada sekitar 200 pelanggan warung akan menghasilkan sekitar Rp. 2 juta / bulan. Perhitungan sederhana akan menunjukan bahwa dalam waktu sekitar 20-21 bulan akan mengembalikan seluruh modal yang ada dengan biaya operasi yang tertutupi. Perhatikan disini bahwa biaya berlangganan jasa e-mail dilakukan per bulan bukan per jam seperti akses Web. Tentunya skenario pengembalian modal ini akan menjadi lebih cepat lagi jika jumlah pelanggan warung lebih besar lagi misalnya 300 orang maka modal akan kembali dalam waktu sekitar 13 bulan. Lama alokasi waktu pemakaian komputer setiap pengguna dalam satu bulan akan lebih rendah bagi 300 pengguna menjadi sekitar 6 jam per bulan jatah waktu pemakaian komputer, sedang untuk 200 orang pengguna jatah waktu pemakaian akan 9 jam / bulan. Dengan asumsi warung Internet buka dari jam 8 pagi s/d 11 malam setiap harinya. Dapat kita bayangkan bahwa dengan memberikan servis e-mail saja sudah menguntungkan bagaimana kalau di tambah dengan akses Web tentunya akan lebih cepat lagi kembali modalnya? Memang benar modal akan kembali lebih cepat lagi. Mari kita lihat pola usaha bagi warnet dengan komputer yang lebih besar yaitu sepuluh (10) buah komputer. Investasi yang dilakukan akan berkisar sekitar Rp. 42-50 juta termasuk sekitar Rp. 7 juta cadangan dana untuk operasional warnet dalam dua bulan pertama. Tentunya kita dapat saja memilih untuk menggunakan jumlah komputer yang lebih sedikit misalnya 5 buah atau lebih kecil lagi. Tapi dari perhitungan sederhana tampaknya minimal yang masih menguntungkan jika kita menggunakan sekitar tiga (3) buah komputer lebih kecil dari itu akan sulit untuk mengembalikan modal. Berbeda dengan jasa e-mail maka pada jasa akses Web maka biaya operasi bulanan yang cukup besar adalah biaya akses Internet dan telepon dan sangat tergantung dari lamanya pendudukan telepon / Internet oleh warung Internet. Teknik Proxy menggunakan perangkat lunak Wingate mungkin dapat dijadikan standar dalam pengelolaan akses Web di sebuah warung Internet. Jika warung Internet dibuka dari pukul 8 pagi s/d 11 malam dengan tingkat pendudukan komputer sebesar 25% (cukup wajar untuk asumsi awal, kecuali kalau kita dapat memperoleh tempat di lingkungan kampus). Maka lama waktu pendudukan saluran Internet rata-rata empat (4) jam per hari, maka rata-rata biaya akses Internet yang harus dikeluarkan per bulan akan sekitar satu (1) juta rupiah per bulan, belum termasuk biaya honor operator, listrik dll yang akan memakan tambahan sekitar satu (1) juta per bulan tambahan sehingga total biaya sekitar Rp. 2-2.5 juta per bulan. Dengan adanya sepuluh (10) buah PC, maka pemasukan uang yang diperoleh akan cukup lumayan. Sebagai contoh dengan perhitungan sederhana saja jika tingkat pendudukan komputer warnet sebesar 25% waktu maka per bulan akan menghasilkan sekitar Rp. 5 juta / bulan dengan tarif akses Web Rp. 5000 / jam. Padahal biaya operasi per bulan hanya sekitar Rp. 2.5 juta / bulan dengan komponen utama biaya telkom & Internet yang sekitar Rp. 1 juta dan honor operator sisanya. Modal akan kembali sekitar 18 bulan. Saya pribadi terus terang tidak akan menyarankan untuk melakukan dumping harga dalam usaha warung Internet ini, walaupun dengan kekuatan sepuluh komputer usaha kita masih bisa survive dengan harga sekitar Rp. 3500 / jam. Karena proses dumping harga akan menyulitkan banyak pihak dan resiko juga menjadi cukup besar bagi kita semua yang mengusahakan warung Internet. Kalau saya boleh menyarankan harga sebaiknya di tahan di sekitar minimal Rp. 5000 / jam sebaiknya agak di atas lagi sekitar Rp. 7500 s/d Rp. 10.000 / jam barangkali lebih baik. Inti dari semua penjelasan ini sebetulnya sederhana, yaitu bahwa usaha warung Internet bukanlah sebuah usaha yang merugikan bahkan merupakan sebuah usaha yang dapat sangat menguntungkan tergantung cara kita mengelola dan melakukan marketing dari warung / usaha tersebut. Pemberian jasa akses e-mail akan jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan pemberian jasa akses Web. Akan tetapi pada proses pemberian jasa akses e-mail dibutuhkan pengetahuan yang lebih kompleks dibandingkan akses Web. Di samping usaha standar akses Web dan e-mail dalam bentuk warung Internet, nilai tambah sebuah warung Internet dapat di tingkatkan dengan drastis jika kita memberikan jasa-jasa tambahan di atas usaha warung Internet seperti pelatihan Internet, pelatihan pembuatan Web, pelatihan / jasa membuatkan Web, jasa iklan di Internet dan banyak lagi yang kadang-kadang bahkan lebih menguntungkan dari usaha warung Internet itu sendiri – tapi sangat tergantung pada keberadaan warung Internet. (RTERR02)
http://www.angelfire.com/jazz/zoendee/web1/page2.html

Senin, 08 September 2008

Kemunduran Peradaban Islam

Kemunduran Peradaban Islam

Ditulis oleh banihamzah di/pada April 26, 2007

Lanjutan..

Setelah mengetahui asas kebangkitan peradaban Islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kekuatan, kemungkinan dan tantangan (SWOT). Kemunduran suatu peradaban tidak dapat dikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistemik, maka jatuh bangunnya suatu perdaban juga bersifat sistemik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satu faktor dengan faktor lainnya – yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal - berkaitan erat sekali. Untuk itu, akan dipaparkan faktor-faktor ekternal terlebih dahulu dan kemudian faktor internalnya.

Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran umat Islam secara eksternal kita rujuk paparan al-Hassan yang secara khusus menyoroti kasus kekhalifahan Turkey Uthmani, kekuatan Islam yang terus bertahan hingga abad ke 20. Faktor-faktor tersebut adalah sbb:

  1. Faktor ekologis dan alami, yaitu kondisi tanah di mana negara-negara Islam berada adalah gersang, atau semi gersang, sehingga penduduknya tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu. Kondisi ekologis ini memaksa mereka untuk bergantung kepada sungai-sungai besar, seperti Nil, Eufrat dan Tigris. Secara agrikultural kondisi ekologis seperti ini menunjukkan kondisi yang miskin. Kondisi ini juga rentan dari sisi pertahanan dari serangan luar. Faktor alam yang cukup penting adalah Pertama, Negara-negara Islam seperti Mesir, Syria, Iraq dan lain-lain mengalami berbagai bencana alam. Antara tahun 1066-1072 di Mesir terjadi paceklik (krisis pangan) disebabkan oleh rusaknya pertanian mereka. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syria dan Iraq. Kedua, letak geografis yang rentan terhadap serangan musuh. Iraq, Syria, Mesir merupakan target serangan luar yang terus menerus. Sebab letak kawasan itu berada di antara Barat dan Timur dan sewaktu-waktu bisa menjadi terget invasi pihak luar.
  2. Faktor eksternal. Faktor eksternal yang berperan dalam kajatuhan peradaban Islam adalah Perang Salib, yang terjadi dari 1096 hingga 1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-1300an. “Perang Salib”, menurut Bernard Lewis, “pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologisnya.” Sedangkan tentara Mongol menyerang negara-negara Islam di Timur seperti Samarkand, Bukhara dan Khawarizm, dilanjutkan ke Persia (1220-1221). Pada tahun 1258 Mongol berhasil merebut Baghdad dan diikuti dengan serangan ke Syria dan Mesir. Dengan serangan Mongol maka kekhalifahan Abbasiyah berakhir.
  3. Hilangnya Perdagangan Islam Internasional dan munculnya kekuatan Barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbus mulai petualangannya. Dalam upayanya mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara Islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara Islam. Di saat itu kekuatan ummat Islam baik di laut maupun di darat dalam sudah memudar. Akhirnya pos-pos pedagangan itu dengan mudah dikuasai mereka. Pada akhir abad ke 16 Belanda, Inggris dan Perancis telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam dunia perdagangan. Selain itu, ternyata hingga abad ke 19 jumlah penduduk bangsa Eropa telah meningkat dan melampaui jumlah penduduk Muslim diseluruh wilayah kekhalifahan Turkey Uthmani. Penduduk Eropa Barat waktu itu berjumlah 190 juta, jika ditambah dengan Eropa timur menjadi 274 juta; sedangkan jumlah penduduk Muslim hanya 17 juta. Kuantitas yang rendah inipun tidak dibarengi oleh kualitas yang tinggi.

Sebagai tambahan, meskipun Barat muncul sebagai kekuatan baru, Muslim bukanlah peradaban yang mati seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi. Peradaban Islam terus hidup dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman Barat. Sesudah kekhalifahan Islam jatuh, negara-negara Barat menjajah negara-negara Islam. Pada tahun 1830 Perancis mendarat di Aljazair, pada tahun 1881 masuk ke Tunisia. Sedangkan Inggris memasuki Mesir pada tahun 1882. Akibat dari jatuhnya kekhalifahan Turki Uthmani sesudah Perang Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada dibawah penjajahan Inggris dan Perancis, demikian pula kebanyakan negara-negara Islam di Asia dan Afrika. Setelah Perang Dunia Kedua kebanyakan negara-negara Islam merdeka kembali, namun sisa-sisa kekuasaan kolonialisme masih terus bercokol. Kolonialis melihat bahwa kekuatan Islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras dan bangsa dapat dilemahkan. Yaitu dengan cara adu domba dan tehnik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara Islam terfragmentasi menjadi negeri-negeri kecil.

Itulah di antara faktor-faktor eksternal yang dapat diamati. Namun analisa al-Hassan di atas berbeda dari analisa Ibn Khaldun. Bagi Ibn Khaldun justru letak geografis dan kondisi ekologis negara-negara Islam merupakan kawasan yang berada di tengah-tengah antara zone panas dan dingin sangat menguntungkan. Di dalam zone inilah peradaban besar lahir dan bertahan lama, termasuk Islam yang bertahan hingga 700 tahun, India, China, Mesir dll. Menurut Ibn Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal daripada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuh karena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah. Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral. Lebih jelas Ibn Khaldun menyatakan:

Tindakan amoral, pelanggaran hukum dan penipuan, demi tujuan mencari nafkah meningkat dikalangan mereka. Jiwa manusia dikerahkan untuk berfikir dan mengkaji cara-cara mencari nafkah, dan untuk menggunakan segala bentuk penipuan untuk tujuan tersebut. Masyarakat lebih suka berbohong, berjudi, menipu, menggelapkan, mencuri, melanggar sumpah dan memakan riba.

Tindakan-tindakan amoral di atas menunjukkan hilangnya keadilan di masyarakat yang akibatnya merembes kepada elit penguasa dan sistem politik. Kerusakan moral dan penguasa dan sistem politik mengakibatkan berpindahnya Sumber Daya Manusia (SDM) ke negara lain (braindrain) dan berkurangnya pekerja terampil karena mekanimse rekrutmen yang terganggu. Semua itu bermuara pada turunnya produktifitas pekerja dan di sisi lain menurunnya sistem pengembangan ilmu pengertahuan dan ketrampilan.

Dalam peradaban yang telah hancur, masyarakat hanya memfokuskan pada pencarian kekayaan yang secepat-cepatnya dengan cara-cara yang tidak benar. Sikap malas masyarakat yang telah diwarnai oleh materialisme pada akhirnya mendorong orang mencari harta tanpa berusaha. Secara gamblang Ibn Khaldun menyatakan:

…..mata pencaharian mereka yang mapan telah hilang, ….jika ini terjadi terus menerus, maka semua sarana untuk membangun peradaban akan rusak,dan akhirnya mereka benar-benar akan berhenti berusaha. Ini semua mengakibatkan destruksi dan kehancuran peradaban.

Lebih lanjut ia menyatakan:

Jika kekuatan manusia, sifat-sifatnya serta agamanya telah rusak, kemanusiaannya juga akan rusak, akhirnya ia akan berubah menjadi seperti hewan.

Intinya, dalam pandangan Ibn Khaldun, kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh hancur dan rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral. Contoh yang nyata adalah pengamatannya terhadap peradaban Islam di Andalusia. Disana merosotnya moralitas penguasa diikuti oleh menurunnya kegiatan keilmuan dan keperdulian masyarakat terhadap ilmu, dan bahkan berakhir dengan hilangnya kegiatan keilmuan. Di Baghdad keperdulian al-Ma’mun, pendukung Mu’tazilah dan al-Mutawakkil pendukung Ash’ariyyah merupakan kunci bagi keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan saat itu. Secara ringkas jatuhnya suatu peradaban dalam pandangan Ibn Khaldun ada 10, yaitu: 1) rusaknya moralitas penguasa, 2) penindasan penguasa dan ketidak adilan 3) Despotisme atau kezaliman 4) orientasi kemewahan masyarakat 5) Egoisme 6) Opportunisme 7) Penarikan pajak secara berlebihan 8) Keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat 9) Rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama dan 10) Penggunaan pena dan pedang secara tidak tepat.

Kesepuluh poin ini lebih mengarah kepada masalah-masalah moralitas masyarakat khususnya penguasa. Nampaknya, Ibn Khaldun berpegang pada asumsi bahwa karena kondisi moral di atas itulah maka kekuatan politik, ekonomi dan sistem kehidupan hancur dan pada gilirannya membawa dampak terhadap terhentinya pendidikan dan kajian-kajian keislaman, khususnya sains. Menurutnya “ketika Maghrib dan Spanyol jatuh, pengajaran sains di kawasan Barat kekhalifahan Islam tidak berjalan.” Namun dalam kasus jatuhnya Baghdad, Basra dan Kufah ia tidak menyatakan bahwa sains dan kegiatan saintifik berhenti atau menurun, tapi berpindah ke bagian Timur kekhalifahan Baghdad, yaitu Khurasan dan Transoxania atau ke Barat yaitu Cairo.

Itulah sebagian pelajaran yang dapat dipetik dari apa yang disampaikan oleh para sejarawan Muslim tentang kemunduran peradaban Islam. Jika al-Hassan memfokuskan pengamatannya pada masa-masa terakhir kejatuhan kekuasaan Islam pada abad ke 16 hingga abad ke 20, Ibn Khaldun mengamati peristiwa-peristiwa sejarah pada abad ke 15 dan sebelumnya. Kini masih diperlukan redifinisi tentang kemunduran ummat Islam secara umum dan mendasar, agar kita dapat memberikan solusi yang tepat.